29.1 C
Luwuk
Kamis, Februari 25, 2021

Aktivis KAMI Diborgol, Lieus: Polisi Stop Jadi Alat Kekuasaan

Data Real Time COVID-19

Baca juga

PT AFR Beri Bantuan Ribuan Masker ke Kurir dan Pengemudi JNE

PT. Asia finance Risk (AFR Broker and Finance Insurance)  memberikan 3.552 masker kain kepada PT. Jalur Nugaraha Eka Kurir atau JNE. Pemberian masker ini...

NasDem Usulkan 50 % Gaji DPR Dipotong untuk Penanganan Covid-19

Berdaulat.id,- Fraksi Partai NasDem mengusulkan setengah dari gaji anggota DPR dialokasikan bagi penanganan wabah Covid-19. Pemotongan diusulkan mulai penggajian bulan Maret...

Anang Hermansyah Sebut Papa T Bob Sang Legenda Pencipta Lagu Anak

Berdaulat.id - Pencipta lagu anak-anak Papa T Bob meninggal dunia pada Jumat (10/7/2020). Karyanya tak lekang oleh waktu hingga menjadikannya sebagai Sang...

Komisi IV DPR Raker Virtual Dengan Menteri Kelautan Dan Perikanan

Berdaulat.id - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi memimpin Rapat Kerja Dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo secara virtual di...

Berdaulat.id – Perlakuan polisi terhadap sejumlah aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), yakni Sekretaris Komite Eksekutif KAMI, Syahganda Nainggolan, deklarator KAMI, Jumhur Hidayat dan Anton Permana serta sejumlah aktivis lainnya, mengundang reaksi keras dari berbagai pihak.

Pemakaian baju tahanan dengan mengikat tangan mereka menggunakan borgol plastik, dianggap sangat merendahkan martabat dan sengaja dilakukan polisi sebagai tindakan dengan maksud menghinakan para tersangka.

Begitu disampaikan koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak), Lieus Sungkharisma kepada wartawan, Jumat (16/10/20).

Padahal, menurut Lieus, belum pernah ada koruptor di negeri ini, yang sudah terang-terangan merugikan negara milyaran bahkan triliunan rupiah, diperlakukan seperti itu oleh polisi.

“Tidak ada koruptor yang ditangkap polisi dan dipamerkan ke publik dengan tangan diborgol,” kata Lieus.

“Perlakuan polisi itu sungguh disayangkan. Mereka ini bukan koruptor, juga bukan pelaku kriminal. Mereka ditangkap hanya karena menyatakan pendapat yang berbeda dengan kehendak pemerintah. Kenapa mereka diperlakukan seperti itu? Ini jelas perlakukan yang sangat tidak adil dari aparat kepolisian dalam penegakan hukum,” ujar Lieus.

Apalagi, kata Lieus, para aktivis itu jangankan diborgol, ditahan saja tidak pantas.

“Masak sih di negeri yang katanya menganut demokrasi, orang ditahan hanya karena menyatakan pendapat yang berbeda dari kehendak pemerintah?” tanyanya.

Lieus menyebut, kecuali pendapat para aktivis itu yang berbeda dengan kehendak pemerintah, para aktivis yang ditahan itu adalah orang-orang baik.

“Saya sangat yakin kecintaan mereka pada bangsa dan negara ini sangat besar. Karena itulah mereka berani mengambil resiko meski harus berhadap-hadapan langsung dengan penguasa,” katanya.

Ditambahkan Lieus, jika dengan memborgol itu polisi bermaksud ingin menciptakan efek jera dan membuat takut, itu jelas salah besar.

“Bagi para aktivis yang mencintai negeri ini, kata takut sudah tidak ada dalam kamus mereka,” tegas Lieus.

Karena itu Lieus meminta polisi menghentikan semua tindakan represif terhadap pihak-pihak yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah.

“Polisi berhentilah menjadi alat kekuasaan. Jadilah aparat keamanan yang mengayomi seluruh warga negara dengan adil,” pinta Lieus.

Seperti diketahui, Syahganda Nainggolan, Junhur Hidayat, Anton Permana langsung ditetapkan sebagai tersangka dengan sangkaan melanggar Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) dan atau Pasal 15 UU 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau Pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) UU 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sangkaan itu mengakibatkan mereka langsung ditahan dengan dipakaikan baju tahanan, lengkap dengan borgol plastik yang mengikat tangan mereka. Perlakukan polisi inilah yang mengundang reaksi keras dari berbagai pihak. []

Berita lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terbaru

Pemantapan Komunikasi Publik, Konferensi Pers Polda Sulteng Hadirkan Interpreter

Berdaulat.id, Palu Ada yang berbeda dalam pelaksanaan Konferensi Pers yang diselenggarakan Polda Sulawesi Tengah pagi ini, Kamis...

OJK Diminta Segera Setujui Pencairan Kelebihan Dana Cadangan Bumiputera

Berdaulat.id, Jakarta – Kasus gagal bayar nasabah atau pemegang polis Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera tak kunjung tuntas...

Dukung Pemulihan Pasca Gempa, Wahdah Islamiyah Serahkan Ambulance ke Sulawesi Barat

Berdaulat.id, Mamuju - Pengurus pusat Wahdah Islamiyah melakukan serah terima satu unit mobil ambulance kepada pengurus wilayah...

Mentan SYL : Untuk Ekspor Komoditas Pertanian Terobos Dulu, Kami Siap Backup

Berdaulat.id, Jakarta – Untuk pertama kalinya komoditas produk olahan unggas dan sapi asal Indonesia berhasil menembus pasar...

Wujudkan Transparansi, Kapolri Launcing Aplikasi Dumas Presisi

JAKARTA - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo resmi melaunching Aplikasi Pengaduan Masyarakat (Dumas) Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi...