29.1 C
Luwuk
Sabtu, November 21, 2020

Australia Bakal Adili Tentaranya yang Bunuh Tahanan di Afghanistan

Data Real Time COVID-19

Baca juga

DPD RI Dukung Sinergisitas Sistem Keamanan Laut

Berdaulat.id - Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) mendukung penguatan kelembagaan Badan Keamanan Laut (Bakamla) sebagai upaya meningkatkan sistem keamanan laut...

Raker DPR Dengan Protokol Kesehatan

Berdaulat.id - Komisi VI DPR RI menggelar rapat kerja dengan Menteri BUMN Erick Thohir membahas dana talangan program pemulihan ekonomi nasional .Selasa...

Turun ke Dapil Politisi Hillary Gelar Penyemprotan Disinfektan

Berdaulat.id,- Anggota DPR RI, Hillary Brigitta Lasut melakukan aksi nyata memotong rantai penyebaran virus COBID-19 di Kota Melonguane Kabupaten Kepulauan Talaud pada...

Kemampuan Intagram Bakal Ditingkatkan

Kemampuan pengguna Instagram untuk menelusuri konten akan semakin ditingkatkan, di mana perusahaan media sosial itu mengumumkan bahwa pengguna berbahasa Inggris di enam...

Berdaulat.id – Sejumlah anggota pasukan khusus militer Australia kemungkinan akan diadili atas dugaan terlibat dalam aksi kejahatan perang di Afghanistan.

Otoritas penegak hukum di Australia berusaha menyeret belasan personel pasukan khusus ke pengadilan karena mereka diduga membunuh 39 tahanan dan warga sipil selama bertugas di Afghanistan.

Informasi mengenai dugaan kejahatan perang itu dimuat dalam sebuah laporan yang terbit pada Kamis (19/11).

Dalam laporan itu, tentara-tentara senior diyakini memaksa juniornya membunuh para tahanan yang tidak berdaya untuk menceburkan mereka ke dalam pertempuran dalam memerangi kelompok ekstremis di Afghanistan. 

Laporan tersebut juga merekomendasikan agar 19 anggota pasukan khusus, yang terdiri dari tentara aktif dan yang telah keluar dari kesatuan, agar dituntut di pengadilan.

Temuan itu membuat masyarakat Australia kecewa mengingat mereka menghormati dan bangga dengan sejarah militer bangsanya.

David McBride, bekas penasihat hukum militer yang membocorkan skandal tersebut, mengatakan ia merasa “didukung” oleh laporan tersebut setelah bertahun-tahun diperlakukan sebagai “pengkhianat bagi tentara”, kata pengacaranya, Mark Davis.

McBride saat ini masih menghadapi tuntutan pidana karena ia membocorkan dokumen rahasia berisi informasi pembunuhan di Afghanistan kepada Australian Broadcasting Corp (ABC).

“Jika dugaan yang sebelumnya ia sampaikan terbukti, ia akan merasa nama baiknya telah pulih, apa pun hukumannya nanti,” kata Davis via telepon. “Nama baiknya akan kembali bersih, begitu juga dengan keyakinannya untuk berbuat hal yang benar,” kata dia.

McBride membenarkan tuduhan bahwa ia memberi dokumen rahasia kepada ABC dan kesaksian itu menjadi dasar penuntutan terhadap dirinya. Berawal dari kesaksian tersebut, aparat penegak hukum juga menggeledah kantor pusat ABC di Sydney tahun lalu.

Kepolisian pada Oktober memberhentikan kasus hukum terhadap ABC karena kurangnya dukungan dan perhatian dari publik untuk meneruskan penyelidikan.

Namun, McBride masih terancam dipenjara dalam waktu yang lama jika ia divonis bersalah. Persidangan terkait kasus McBride akan dimulai tahun depan.

Davis mengatakan hakim harus menolak seluruh tuntutan terhadap kliennya.

Dusty Miller, seorang dokter militer dan saksi dalam penyelidikan itu, saat diwawancarai ABC, mengatakan klaimnya terkait pembunuhan warga sipil di Afghanistan mendapat “pembenaran” secara terbuka dari keterangan panglima angkatan bersenjata.

Sejarah hitam

Laporan itu, bagi para pemimpin di Australia, merupakan bab paling kelam dalam sejarah militer di Negeri Kangguru.

Sejumlah anggota parlemen mengecam aksi kekerasan yang diduga dilakukan pasukan khusus itu dan mendukung kemungkinan bahwa para tersangka untuk dituntut.

Namun dalam waktu yang sama, para anggota dewan juga menyampaikan solidaritas terhadap angkatan bersenjata di Australia.

“Laporan itu membuat saya sakit secara fisik dan sangat menyedihkan untuk dibaca,” kata Menteri Pertahanan Australia Linda Reynolds, yang pernah bertugas di Angkatan Darat.

“Saya tahu kejadian ini tidak mewakili kesatuan … dan tidak mewakili mayoritas laki-laki dan perempuan yang masih berjuang menjaga negara kita dengan tanggung jawab yang besar,” ujar Reynolds.

Sementara itu, Menteri Keuangan Josh Frydenberg mengatakan tuduhan itu “sangat serius tetapi jangan sampai menutup seluruh kerja positif yang telah dilakukan pihak militer yang membawa nama kita semua”.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison sebelumnya memperingatkan laporan itu akan membuat sedih Australia beserta militer negara itu. Namun, ia belum memberi komentar lebih lanjut setelah laporan itu terbit.

Presiden Afghanistan Ashraf Gani pada Kamis malam lewat unggahannya di Twitter mengatakan Morrison telah “menyampaikan duka mendalam” atas dugaan pembunuhan warga Afghanistan oleh anggota pasukan khusus Australia.

Menhan Reynolds minggu lalu mengatakan Canberra telah menerima informasi bahwa adanya kasus hukum yang berjalan di dalam negeri menjadikan tuntutan di tingkat dunia, yaitu di Pengadilan Pidana Internasional di Den Haag, Belanda, tidak lagi berlaku.

Warga di Kabul, ibu kota Afghanistan, menyambut baik rencana Pemerintah Australia membawa para pelaku pembunuhan ke pengadilan. Namun, mereka terbelah saat ditanya di mana pada tersangka harus diadili.

“Mereka yang melakukan kejahatan serius semacam itu harus diadili oleh hukum di Afghanistan dan harus diberi hukuman yang adil,” kata Abdul Mutahal, seorang warga Kabul.

Mohammad Isaaq Faiaz, imam aliran Syiah, mengatakan para tersangka “harus diadili di Australia dan keluarga para korban harus diberi kompensasi”.[]

Berita lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terbaru

Pakai Earphone Terlalu Lama Berakibat Infeksi

Keluhan nyeri, iritasi dan infeksi pada telinga dalam tujuh hingga delapan bulan terakhir terus meningkat selama pandemi COVID-19, disebabkan penggunaan earphone dalam waktu yang...

Pemprov Sulteng Minta Apkasindo Bantu Bina Petani Sawit

Berdaulat.id - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengharapkan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sulteng untuk membantu pemerintah untuk membina petani sawit.

Soal Kerumunan Masa FPI, Di Bareskrim Ini yang Di Katakan Ridwan Kamil

Berdaulat.id - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan bahwa masyarakat tetap boleh berkegiatan selama masa pandemi COVID-19 asalkan menaati Adaptasi Kebiasaan Baru...

Australia Bakal Adili Tentaranya yang Bunuh Tahanan di Afghanistan

Berdaulat.id - Sejumlah anggota pasukan khusus militer Australia kemungkinan akan diadili atas dugaan terlibat dalam aksi kejahatan perang di Afghanistan.

Johan Zarco Catat Waktu Tercepat di FP2

Berdaulat.id - Pebalap tim Esponsorama Racing Johann Zarco memimpin catatan waktu latihan bebas Grand Prix Portugal mengungguli Maverick Vinales dan Aleix Espargaro...