29.1 C
Luwuk
Minggu, November 22, 2020

Dekranasda Sulsel Dukung Upaya Pelestarian Aksara Lontara bersama Dinas Perpustakan Daerah

Data Real Time COVID-19

Baca juga

Bamsoet : Apresiasi Penundaan RUU HIP

Berdaulat.id - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengapresiasi serta mendukung langkah pemerintah yang menunda pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP), sehingga bisa...

Usai Dihentikan, Klub-klub La Liga Spanyol Mulai Jalan Normal

Berdaulat.id - Sepak bola La Liga Spanyol mulai kembali ke jalan normal Senin kemarin ketika penyelenggara menyatakan klub-klub boleh melanjutkan berlatih pekan...

IDF – MUI Hadirkan Program Bantuan Gerobak di Sulut

Berdaulat.id - Donasi konsumen Alfamidi yang dikelola Indonesian Dakwah Fund Majelis Ulama Indonesia (IDF-MUI)  menghadirkan program bantuan gerobak untuk meningkatkan kualitas pelaku usaha...

Hindari COVID-19, Jubir Pemerintah Ingatkan Masyarakat Pakai Masker dengan Benar

Berdaulat.id - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengingatkan masyarakat untuk memakai masker dengan benar menutupi hidung dan mulut untuk...

MAKASSAR, PEMPROV SULSEL – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sulawesi Selatan (Sulsel), Lies F Nurdin, menghadiri Festival Aksara Lontara 2020, yang digelar di Gedung Perpustakaan dan Arsip Daerah jalan Sultan Alauddin, Talasalapang, Makassar pada Kamis, 27 Agustus 2020. Kegiatan yang mengusung tema Mengembalikan Aksara dan Budaya Lontara ini juga dirangkaikan dengan peragaan busana yang menampilkan desain pakaian berbahan sutera dengan nuansa aksara Lontara yang kental, serta pemilihan Duta Lontara Sulsel.

Foto : Net.

“Kami di Dekranasda sangat terharu, bangga dan senang sebagai orang Sulawesi Selatan. Budaya Lontara ini harus kita kembangkan, karena itulah budaya kita. Dengan adanya kegiatan ini, kami ikut serta sebagai support. Semua negara yang menghargai budayanya akan besar, mudah-mudahan kita Sulawesi Selatan juga akan begitu,” kata Lies, usai menghadiri kegiatan yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah bekerjasama dengan Dekransda Sulsel ini.

Lies mengatakan, melalui serangkaian kegiatan yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah untuk menghidupakan Aksara Lontara di masyarakat, khususnya kepada generasi muda, adalah langkah yang patut didukung dan diapresiasi.

“Saya sebagai Ketua Dekranasda Sulsel sangat mensupport segala program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip daerah untuk menjaga Aksara Lontara tetap hidup di masyarakat,” kata Lies.

Sementara, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, Hasan Sijaya, menuturkan, tantangan terbesar dalam menjaga kelestarian Aksara Lontara ini di masayarakat Sulsel, khususnya oleh generasi muda adalah membangun pemahaman atas pentingnya memelihara warisan leluhur berupa aksara ini. Untuk itu, kata Hasan, pihaknya terus memberi fasilitas bagi budayawan, seniman maupun sastrawan, untuk menumbuhkembangkan aksara ini.

“Upaya kita saat ini untuk melestarikan Aksara Lontara di masyarakat adalah dengan selalu memfasilitasi para budayawan, seniman dan sastrawan, untuk menumbuhkembangkan Aksara Lontara, baik melalui seminar, sosialisasi maupun kegiatan yang dikemas dalam berbagai bentuk,” jelas Hasan.

Sebagai catatan, di Indonesia terdapat 706 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Namun, tidak semua bahasa daerah yang tersebar di Nusantara ini memiliki Aksara untuk merekam nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakat pemilik Bahasa itu. Bahasa Daerah yang memiliki Aksara adalah Jawa, Bali, Sunda, Makassar-Bugis, Batak dan Rencong.

Salah satu Bahasa Daerah yang cukup beruntung adalah Bahasa Bugis-Makassar. Dikatakan cukup beruntung karena bahasa daerah ini memiliki Aksara yang dapat merekam atau mencatat nilai-nilai luhur (Indigeneous Knowledge) yang disebut dengan “Paseng” yang artinya Pesan-Pesan Adat Istiadat, yang dalam Bahasa Makassar disebut Panngadakkang dan dalam Bahasa Bugis disebut Panngaderreng.

Hasil catatan atau Manuskrip tersebut disebut Lontara. Aksara Makassar-Bugis yang digunakan untuk mencatat manuskrip-manuskrip ini dikenal sebagai Aksara Lontara.

Aksara Lontara merupakan lambang identitas daerah dan alat transformasi nilai-nilai luhur yang sangat berharga. Untuk itu, Aksara Lontara adalah salah satu aset kekayaan budaya yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai aset pembelajaran budaya nasional dan objek wisata budaya daerah.

Dalam kegiatan ini, terpilih Deviyanti Faisal sebagai Duta Aksara Lontara Sulawesi Selatan, yang nantinya bertugas mendukung segala kegiatan yang dapat meletarikan Aksara Lontara di masyarakat. (*)

Berita lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terbaru

Minim Sarana Dan Prokes, Dokter Di Sulteng Tolak Tangani Pasien Corona, LaNyalla: Segera Perbaiki

Berdaulat.id -Sebanyak 25 dokter di RSUD Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng) melakukan aksi protes menolak menangani pasien Corona karena protokol kesehatan...

Belajar Tatap Muka Siap Dibuka, Ketua DPD Imbau Ada Satgas Covid Sekolah

Berdaulat.id -Mendikbud Nadiem Makarim mengumumkan pembelajaran tatap muka di seluruh sekolah bisa dimulai pada Januari 2021. Meski masih berada zona risiko sedang...

Bank BTN Terus Perbaiki NPL

Berdaulat.id - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terus berupaya untuk menekan NPL perseroan salah satunya dengan menggelar Asset Sales Festival di...

Banyak Temuan Di Daerah, Ketua DPD Rapat Dengan DKPP

Berdaulat.id -Hasil lawatan ke sejumlah provinsi di Sulawesi, Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menemukan beberapa hal yang penting untuk diketahui...

Soal Instruksi Mendagri, Pakar: Ga Usah Didengar

Berdaulat.id - Pakar Hukum Tata Negara Margarito Kamis mengatakan, instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang menyebut bahwa pemerintah bisa memberhentikan...