Kamis, April 18, 2024
BerandaOpiniEtika Puasa

Etika Puasa

Oleh Ustd DR. Syasmsuddin

Puasa (shaum atau shiyam) adalah menahan diri dari makan dan minum dan hubungan badan serta pembatal puasa lainnya sejak terbit fajar sampai terbenam mata hari dengan niat ibadah kepada Allah.

Namun demikian orang yang berpuasa hendaknya tidak hanya meninggalkan makan dan minum serta pembatal puasa lainnya. Hendaknya puasa disempurnakan dengan menjaga dan memperhatiakan adab serta etika berpuasa. Adab dan etika ini merupakan pelengkap dan penyempurna ibadah puasa.

Diantara  adab  dan etika yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang berpuasa.

1. Berniat Sejak Malam

Orang yang berpuasa hendaknya berniat puasa sejak malam. Paling lambat niat puasa sebelum terbit fajar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Siapa yang tidak berniat puasa sejak malam sebelum terbit fajar maka tidak sah puasa baginya”. (Terj. HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Majah).

Ketentuan ini berlaku pada puasa wajib seperti puasa Ramadhan atau puasa qadha. Adapun puasa Sunnah boleh berniat setelah terbit fajar atau terbit mata hari, dengan syarat belum makan dan minum atau melakukan pembatal puasa.

Ada beberapa hal penting terkait niat puasa Ramadhan:

-, Niat dalam hati dan tidak wajib dilafalkan

-, Niat tidak harus bersamaan dengan makan sahur, tapi dapat dilakukan sebelumnya

-, Jika niat puasa dilakukan sejak malam (setelah shalat witir atau sebelum tidur) maka pembatal puasa yang dikerjakan setelahnya tidak merusak puasa. Misalnya setelah niat puasa usai shalat witir atau menjelang tidur masih makan dan minum serta berhubungan badan, maka puasa keesokan harinya tetap sah.

2. Makan Sahur

Dianjurkan makan sahur. Sahur merupakan salah satu sunnah puasa yang dianjurkan Nabi Muhammad shallalhu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda;

“Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di hadits lain Nabi mengabarkan, sahur merupakan pembeda antara puasa umat nabi Muhammad dengan umat-umat sebelumnya.

Oleh karena itu Nabi menekankan agar makan sahur tidak ditinggalkan sama sekali, walau hanya bersantap sahur dengan seteguk air. “Bersahurlah walaupun hanya meneguk seteguk air”, kata Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban.

Dianjurkan pula bersahur dengan kurma (tamr). Karena kurma merupakan menu sahur terbaik, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

 “Sebaik-baik (menu) makan sahur seorang Mu’min adalah tamr (kurma).” (HR. Abu Dawud: ).

Jika tidak ada kurma, maka dapat bersahur dengan makan apa saja yang halal. Paling minimal bersahur dengan meminum air putih, sebagaimana anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

“Bersahurlah!meski hanya dengan –meminum-seteguk air”. (HR. Ibnu Hibban).

Makan sahur lebih utama diakhirkan sebagaimana kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melaksanakan shalat’’. Anas bertanya kepada Zaid: “Berapa jarak antara adzan dan sahur ?”. Dia menjawab : ‘seperti lama membaca 50 ayat’” (Terj. HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan disunnahkannya mengakhirkan makan sahur hingga dekat dengan waktu Shubuh.

3. Menyegerakan Berbuka dan Berbuka dengan Kurma

Dianjurkan menyegerakan berbuka jika waktu maghrib telah masuk. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Umat manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa. (Muttafaq ‘alaih).

Dianjurkan berbuka dengan ruthab (kurma segar), jika tidak ada maka dengan tamr (krma masak), dan jika tidak maka berbuka dengan apa saja, namun hendaknya diawali dengan air putih.

Anas bin Malik menceritakan tentang buka puasa Nabi. Dia berkata, “Nabi biasa berbuka dengan ruthab (kurma segar) sebelum mengerjakan shalat. Jika beliau tidak mendapatkan ruthab, maka beliau berbuka dengan beberapa buah tamr (kurma masak yang sudah lama dipetik) dan jika tidak mendapatkan tamr, maka beliau meminum air.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

4. Berdo’a Ketika Berbuka Puasa

Disunnahkan berdo’a ketika berbuka puasa dengan do’a yang dicontohkan oleh Nabi.

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma meriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbuka puasa selalu membaca:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

“Telah hilang rasa haus dan telah basah urat-urat, serta  pahala telah telah ditetapkan, insya Allah.” (HR. Abu Daud).

5. Menghindari Rafats, Kata-kata Kotor dan Dusta

Orang yang berpuasa hendaknya meninggalkan kata-kata kotor, rafats, dan dusta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan tentang hal ini dalam sabdanya,

 “.. Apabila pada hari seseorang di antara kamu berpuasa, maka janganlah ia berbuat rafats …” (HR. Bukhari)

Rafats adalah  kata-kata kotor/jorok yang menjurus pada perbuatan maksiat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan bahaya dusta bagi orang yang berpuasa. Beliau bersabda,

 “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tetap melakukannya, maka Allah tidak akan menghiraukan orang itu meskipun  meninggalkan makanan dan minumannya (berpuasa).” (Bukhari)]

Selain itu hendaknya orang yang berpuasa meninggalkan semua perbuatan haram, seperti ghibah (menggunjing), perkataan jorok dan dusta. Karena  perbuatan haram tersebut dapat mengurangi bahkan menghapus pahala puasanya.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments