29.1 C
Luwuk
Selasa, Mei 11, 2021

Kemana Arah Politik Jokowi Di Pilpres 2024?

Data Real Time COVID-19

Baca juga

Putus Rantai COVID-19, ACT Salurkan Bantuan Beras

Berdaulat.id - Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulawesi Selatan menyalurkan bantuan beras sebanyak 250 kg kepada warga kurang mampu di Kabupaten Pinrang untuk...

Menaker: Pemerintah Miliki Komitmen Kuat Lindungi PMI

Berdaulat.id - Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, menegaskan bahwa pemerintah memiliki komitmen yang sangat kuat dalam menghadirkan peran negara untuk memberikan pelindungan kepada...

Bekerja di Tengah Pandemi Covid-19, Presdir JNE: Bukan Omzet yang Menjadi Tolak Ukur, Tetapi Kemanusian

PT Jalur Nugraha Eka Kurir atau JNE salah satu perusahaan ekspedisi nasional yang mendapatkan surat rekomendasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika yang ditanda tangani...

Antisipasi Virus Corona, Warga Wajib Pakai Masker

Berdaulat.id - Diwajibkan pakai masker, cuci tangan, cek suhu tubuh dan disemprot cairan disinfektan bagi semua warga atau masyarakat yang akan masuk...

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Berdaulat.id, Tiga periode jabatan presiden, hampir tidak mungkin terjadi di era reformasi. Indonesia sepertinya trauma punya presiden terlalu lama. Kabarnya, semua partai, terutama PDIP, tidak setuju presiden tiga periode. Jokowi sendiri menegaskan tidak setuju juga untuk tiga periode. Jadi, clear. Semua kompak. Selama ini, ide tiga periode hanya wacana liar yang berkembang di media, terutama media sosial.

Lalu, kemana arah politik Jokowi di pilpres 2024? Apakah Jokowi akan ditinggalkan mitra koalisinya? Atau masih punya kekuatan untuk bergaining?

2024, ada 270 plt kepala daerah. Semua plt dipilih presiden dan memiliki kekuatan tersendiri. Apalagi jika jelang 2024 Jokowi menjadi ketua umum salah satu partai. Kemungkinan Jokowi menjadi ketua PDIP, Demokrat atau partai yang lain bukan hal mustahil. Nah, jika Jokowi memiliki partai, kekuatan bergainingnya akan tetap besar.

Diantara tokoh yang santer dan berpeluang maju di pilpres 2024 adalah Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, dan sejumlah nama yang lain. Diantara nama-nama itu, siapa yang memungkinkan didukung Jokowi?

Semua tetap punya peluang untuk didukung Jokowi. Prabowo misalnya, cukup kuat dan dekat dengan Jokowi untuk saat ini. Tapi, jika Prabowo diusung oleh PDIP, maka pengaruh Jokowi ke Prabowo kalah kuat dengan Megawati. Apalagi, Prabowo dua kali pernah dikalahkan oleh Jokowi di pilpres 2014 dan 2019. Hiruk pikuk pilpres masa lalu bisa jadi resisten dan punya potensi kerentanan hubungan antara Jokowi dengan Prabowo. Tentu, ini akan jadi kalkulasi tersendiri bagi Jokowi.

Selain Prabowo, orang yang cukup dekat dengan Jokowi adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. Lagi-lagi, Ganjar adalah kader PDIP. Tanpa jabatan presiden pasca 2024, Jokowi tidak akan dihitung kekuatannya oleh Megawati yang notabene menjadi penguasa di partai berlambang kepala banteng ini. Artinya, dominasi Megawati ke kader akan menihilkan pengaruh Jokowi. Kecuali jika Ganjar membelotvdan keluar dari PDIP.

Sandiaga Uno dan Ridwan Kamil tidak terlalu dekat, tapi akan sangat ditentukan oleh partai pengusung dan elektabilitas. Sandi kader Gerindra. Sulit mendapatkan tiket maju dari Gerindra mengingat Prabowo masih menjadi primadona di partai berlambang garuda ini. Kecuali jika Prabowo batal maju di pilpres 2024, Sandi akan punya peluang. Sementara Ridwan Kamil, selain tidak punya partai, elektabilitasnya juga tidak terlalu menonjol. Masih perlu kerja keras jika ingin dapat pinangan dan dukungan.

Mendukung Anies, kalkulasinya bagi Jokowi lebih rasional. Selain elektabilitas menjanjikan, Anies sulit dikalahkan jika maju di pilgub DKI lagi.

Anies mesti nyapres. Jika tidak, Anies akan bertarung di pilgub DKI lagi sebagai incumbent. Seandainya pun semua partai dihalangi untuk mengusung Anies nyagub di DKI, Anies masih bisa lewat jalur Independen. Di DKI, elektabilitas Anies tidak tertandingi. Akan sulit bagi siapapun untuk mengalahkan Anies di pilgub DKI 2024. Incumbent, prestasi cukup banyak dan populer, serta fanatisme pemilih masih sangat kuat. Soal ini, analis dan surveyer politik paham datanya.

Jika Jokowi berniat membawa putra sulungnya Gibran ke Jakarta, mesti menghindari lawan Anies. Masih terlalu berat dan tidak tepat waktu. Untuk menghindari lawan Anies di pilgub DKI, Anies mesti dicapreskan.

Jokowi dukung Anies ini akan jadi win win solution. Pertama, keduanya pernah punya sejarah kedekatan yang bisa direkatkan lagi. Kedua, rekonsiliasi bangsa ini akan bisa dijahit kembali. Anies punya karakter merangkul dan bersinergi dengan semua pihak. Ketiga, Anies tipe orang yang di dalam dirinya tidak ada kosa kata balas dendam. Siapapun, akan aman dan nyaman bersama Anies.

Tapi, apapun itu, presiden Jokowi pasti sudah punya rencana dan kalkulasi yang matang soal pilpres 2024. Karena ini menyangkut eksistensi politiknya setelah tidak lagi menjadi presiden.

Jakarta, 19 April 2021

Berita lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terbaru

Idul fitri 1442 H, pelayanan penerbitan SIM libur

Berdaulat.id, Palu, Selama hari raya Idul fitri 1442 H, pelayanan penerbitan Surat Ijin Mengemudi (SIM) di jajaran...

Bukber Yatim-Dhuafa, Jufi dan Teladanku Hadirkan “Badut Syariah”

Berdaulat.id, BEKASI—Anak-anak yatim-dhuafa di ruangan itu terlihat antusias menyimak materi agama yang disampaikan seorang ustaz yang berpenampilan...

Persembahan WIZ untuk Naba Faiz (buka takjil salah sasaran)

Berdaulat.id, Bantul— Terungkapnya perempuan misterius pengirim sate beracun di Kabupaten Bantul yang menewaskan Naba Faiz Prasetya (10)...

Bersama Panglima TNI, Kapolri Tinjau Pos Penyekatan Merak-Bakauheni

Berdaulat.id, JAKARTA— Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Ketua DPR RI...

100 Hari Kerja Kapolri Dinilai Memiliki Semangat Kepolisian yang Demokratis

Berdaulat.id, JAKARTA - Jenderal Listyo Sigit Prabowo resmi menjabat sebagai Kapolri selama 100 hari kerja pada 8...