29.1 C
Luwuk
Senin, November 30, 2020

KPK Panggil Saksi Swasta Terkait Kasus Suap Nurhadi

Data Real Time COVID-19

Baca juga

Wasekjen MUI Sebut New Normal Terkesan Abaikan Keselamatan Jiwa

Berdaulat.id - Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhammad Zaitun Rasmin angkat bicara terkait kebijakan new normal yang diterbitkan pemerintah dalam hal...

Walikota Palu Shalat Bersama Warga di Lapangan Vatulemo

Berdaulat.id - Wali Kota Palu Hidayat, para pejabat pemerintah, dan warga ibu kota Sulawesi Tengah menerapkan protokol pencegahan COVID-19 saat melaksanakan Shalat...

Diskusi Empat Pilar MPR

Berdaulat.id -Koordinatoriat Wartawan Parlemen bekerja sama dengan Humas dan Pemberitaan MPR RI menggelar Diskusi Empat Pilar dengan tema "Optimalisasi Pasar Online bagi...

Teras Narang: Demi Keselamatan Rakyat, Lebih Baik Injak Rem Penundaan Pilkada

Berdaulat - Senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia ( DPD RI) dari Daerah Pemilihan Kalimantan Tengah (dapil Kalteng,) mendesak Pemerintah dan DPR...

Berdaulat.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil saksi Lo Jecky dari unsur swasta dalam penyidikan kasus suap dan gratifikasi terkait dengan perkara di Mahkamah Agung (MA) pada tahun 2011-2016.

Jecky dijadwalkan diperiksa untuk tersangka mantan Sekretaris MA Nurhadi (NHD).

“Pemeriksaan saksi Lo Jecky, swasta untuk tersangka NHD terkait tindak pidana korupsi suap dan gratifikasi terkait dengan perkara di Mahkamah Agung pada tahun 2011-2016,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Selasa (15/9/20).

Ali mengatakan, penyidik KPK masih terus mengumpulkan alat bukti antara lain melalui keterangan saksi-saksi guna melengkapi dan merampungkan berkas perkara penyidikan tersangka Nurhadi.

Selain Nurhadi, KPK juga telah menetapkan menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono (RHE) dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto (HS) sebagai tersangka. Untuk tersangka Hiendra saat ini masih menjadi buronan.

Nurhadi dan Rezky ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi senilai Rp46 miliar terkait pengurusan sejumlah perkara di MA sedangkan Hiendra ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.

Adapun penerimaan suap tersebut terkait pengurusan perkara perdata PT MIT vs PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) kurang lebih sebesar Rp14 miliar, perkara perdata sengketa saham di PT MIT kurang lebih sebesar Rp33,1 miliar dan gratifikasi terkait perkara di pengadilan kurang lebih Rp12,9 miliar sehingga akumulasi yang diduga diterima kurang lebih sebesar Rp46 miliar. []

Berita lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terbaru

Berdaulat.co.id - Koordinatoriat Wartawan Parlemen bekerja sama dengan Humas Pemberitaan MPR RI menggelar diskusi Empar Pilar Kebangsaan MPR RI dengan tema "Kebangkitan...

Diduga Rencanakan Pengeboman, Diplomat Iran Jalani Sidang di Belgia

Berdaulat.id - Seorang diplomat Iran, Assadolah Assadi, serta tiga orang warga negara Iran lainnya menjalani sidang di Antwerp, Belgia, pada Jumat atas...

Ke Cengkareng, Kapolda Metro Jaya Bernostalgia

Berdaulat.id - Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran yang belasan tahun lalu pernah menjabat Kapolsek Kecamatan Cengkareng bernostalgia ke wilayah itu pada Jumat.​​​​​​​Fadil sempat mengunjungi...

Menkop Tekankan UMKM Go Digital

Berdaulat.id - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menekankan dan menerapkan tiga hal dalam upaya mendorong UMKM go digital meliputi kapasitas usaha, kualitas produk,...

Soal Edhy Prabowo, Gerindra Hormati Proses Hukum

Berdaulat.id - Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra Ahmad Muzani menyatakan Gerindra menghormati proses hukum yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)...