29.1 C
Luwuk
Jumat, Januari 22, 2021

Produsen Tempe di Jakut Kembali Beroperasi Setelah Mogok Produksi

Data Real Time COVID-19

Baca juga

Mushola Truk Al-Hijrah

Berdaulat.id - Wong Solo Group pimpinan Puspo Wardoyo yang bergerak di bidang kuliner tradisional, berinisiatif bikin mushola yang mobile, disebutnya Mushola Truk...

Pasien Positif Corona Terus Bertambah, Komite II DPD RI Minta PSBB Dikaji Ulang

Berdaulat.id - Komite II DPD RI mempertanyakan kebijakan Pemerintah terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan memilih untuk tidak melakukan karantina wilayah...

Jokowi: Yang Kita Atur Adalah Peribadatan Sesuai Protokol Kesehatan

Berdaulat.id - Peribadatan sesuai protokol kesehatan, Presiden Joko Widodo (Jokowi)) membantah bahwa pemerintahannya melarang masyarakat untuk beribadah selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala...

Komisi VIII DPR Rapat Virtual Dengan Wamenag

Berdaulat.id - Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto memimpin rapat kerja (raker) dengan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi, Senin (11/5/2020). Rapat...

Berdaulat.id – Produsen Tempe di Kampung Tempe, Kelurahan Sunter Jaya, Jakarta Utara mulai produksi setelah mogok produksi sejak Jumat (1/1/21) hingga Minggu (3/1/21).

“Kami mogok kerja sejak Jumat (1/1/21) selama tiga hari, karena harga kacang kedelai naik,” kata Produsen Tempe, Sunoto di Jakarta, Senin (4/1/21).

Dia menyatakan, produksi yang dilakukan pada hari pertama masih dalam jumlah kecil karena harga kacang kedelai belum ada penurunan harga.

“Harga kacang kedelai naik dari dari Rp76.000 per kuintal atau 100 kilogram menjadi Rp93.000,” ungkap Sunoto.

Sunoto berharap adanya penurunan harga kacang kedelai, agar penjualan tempe kembali normal. Sebelum kenaikan kedelai, harga tempe dijual per potong sebesar Rp5.000. Namun, setelah kenaikan, tempe dijual sebesar Rp6.000 atau naik sebesar Rp1.000.

Menurut Sunoto, untuk menyiasati mahalnya harga kacang kedelai, produsen tempe melakukan pengurangan ukuran tempe. Walaupun upaya itu mendapatkan keluhan dari pelanggan dan masyarakat.

“Kalau orang-orang mengharapkan harga turun,” ujar Sunoto.

Sebelumnya, sekitar 5.000 pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang tergabung Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta menghentikan sementara proses produksi pada 1-3 Januari 2021.

Sekretaris Puskopti DKI Jakarta, Handoko Mulyo, di Jakarta, Jumat, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap kenaikan harga bahan baku kedelai dari Rp7.200 menjadi Rp9.200 per kilogram (kg).

Handoko mengatakan aksi mogok produksi itu telah disampaikan kepada sekitar 5.000 produsen maupun pedagang tahu dan tempe di DKI Jakarta melalui surat nomor 01/Puskopti/DKI/XII/2020 yang dikeluarkan Puskopti DKI Jakarta pada 28 Desember 2020. []

Artikulli paraprakPelantikan PAW MPR RI
Artikulli tjetërPembangunan LRT

Berita lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terbaru

BNPB : Sebanyak 185 Bencana Terjadi Hingga Minggu Keempat Januari 2021

Berdaulat.id, JAKARTA – BNPB mencatat sebanyak 185 bencana terjadi sepanjang 1 hingga 21 Januari 2021. Data per...

Siang dan Malam Relawan Rumah Zakat Banggai Distribusi Sembako di Posko Pengungsian

Berdaulat.id, Hari kedua setelah sampai di Mamuju, Relawan Rumah Zakat langsung mendistribusikan sembako bantuan kemanusiaan dari pemerintah...

Upaya Cordova Indonesia Bertahan di Tengah Pandemi

Berdaulat.id, MAKASSAR—Pada masa pandemi Covid-19 ini, banyak usaha atau bisnis yang tidak mampu bertahan, mengurangi produksi dan...

Gempa Mamuju dan Majene, Laznas WIZ Salurkan Bantuan Makanan Siap Saji dan Bahan Pokok

Berdaulat.id, Relawan Laznas Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) bergerak cepat menyalurkan bantuan awal tanggap darurat bagi para korban...

WIZ Distribusikan Bantuan Sembako di Area Pesisir Kota Mamuju

Berdaulat.id, Direktur Program dan Pemberdayaan Laznas Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) Ridwan Umar mengatakan pihaknya sudah melakukan identifikasi...