29.1 C
Luwuk
Minggu, November 22, 2020

Sekjen PAN Berharap UU Ciptaker Bantu Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi

Data Real Time COVID-19

Baca juga

Diskusi Legislasi RUU Penyiaran

Berdaulat.id - Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PPP Syaifullah Tamliha bersama Komisioner KPI Pusat Hardly Stefano dan Staf Ahli Menteri...

Dewan Pertimbangan MUI Sebut Gerakan 50 Ribu Bentuk Perangi COVID-19

Berdaulat.id - Merebaknya COVID-19 ke berbagai wilayah di Indonesia membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) segera membentuk satuan tugas (Satgas) khusus...

Politisi PKS: Pengambilan Paksa Tanah Palestina Oleh Israel Penjajahan Di Era Milenial

Berdaulat.id - Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Abdul Kharis Almasyhari menilai bahwa langkah Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang menyatakan siap mengakui kebijakan...

Tarik Anggotanya Dalam Pembahasan, Partai Demokrat Nilai RUU HIP Belum Perlu Dilakukan

Berdaulat.id - Pembahasan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) di Badan Legislasi (Baleg) DPR, dinilai Partai Demoktat belum perlu dilakukan.

Berdaulat.id – Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno mengharapkan UU Cipta Kerja dapat berkontribusi untuk membantu akselerasi pertumbuhan ekonomi.

“Bagaimana kontribusi untuk akselerasi ekonomi, sejauh mana pemberlakuan UU Ciptaker untuk mendorong ekonomi Indonesia lebih kompetitif dari usaha, bisnis, dan investasi,” katanya dalam sesi diskusi Resesi dan Percepatan Pemulihan Ekonomi, yang diselenggarakan Media Center PAN, Rabu (4/11/20).

Ia mengingatkan digitalisasi menjadi tantangan terbesar tenaga kerja seiring kemajuan teknologi informasi yang kian pesat.

“Kami merasa tantangan terbesar tenaga kerja saat ini itu masalah optimalisasi dan digitalisasi. ‘Skill’ penting agar tenaga kerja adaptasi dengan kemajuan,” katanya.

Menurut dia, tenaga kerja di Indonesia harus dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi, sebab perkembangan zaman mengharuskan tenaga kerja harus dapat menguasai dunia digital atau digitalisasi.

Apalagi, kata dia, masa pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) juga mengharuskan tenaga kerja untuk beradaptasi dengan dunia digital, mengingat selama pandemi aktivitas dan kegiatan tatap muka dibatasi berganti dengan “online”.

Dampak COVID-19 mengakibatkan ekonomi menjadi bergerak lambat, kata dia, sehingga sejumlah negara, termasuk Indonesia masuk ke dalam resesi ekonomi.

Namun, diakuinya, secara perlahan negara-negara itu mulai bangkit, salah satunya Tiongkok sebagai negara yang paling awal terdampak COVID-19, tetapi justru paling cepat bangkit dari virus yang telah mematikan jutaan jiwa manusia di seluruh bumi tersebut.

“Tak perlu khawatir. Fokus seberapa cepat bisa keluar. Semakin cepat ekonomi dibuka semakin cepat pertumbuhan ekonomi. Mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan,” ujarnya. []

Berita lainnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terbaru

Soal Instruksi Mendagri, Pakar: Ga Usah Didengar

Berdaulat.id - Pakar Hukum Tata Negara Margarito Kamis mengatakan, instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian yang menyebut bahwa pemerintah bisa memberhentikan...

Pakai Earphone Terlalu Lama Berakibat Infeksi

Keluhan nyeri, iritasi dan infeksi pada telinga dalam tujuh hingga delapan bulan terakhir terus meningkat selama pandemi COVID-19, disebabkan penggunaan earphone dalam waktu yang...

Pemprov Sulteng Minta Apkasindo Bantu Bina Petani Sawit

Berdaulat.id - Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengharapkan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sulteng untuk membantu pemerintah untuk membina petani sawit.

Soal Kerumunan Masa FPI, Di Bareskrim Ini yang Di Katakan Ridwan Kamil

Berdaulat.id - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan bahwa masyarakat tetap boleh berkegiatan selama masa pandemi COVID-19 asalkan menaati Adaptasi Kebiasaan Baru...

Australia Bakal Adili Tentaranya yang Bunuh Tahanan di Afghanistan

Berdaulat.id - Sejumlah anggota pasukan khusus militer Australia kemungkinan akan diadili atas dugaan terlibat dalam aksi kejahatan perang di Afghanistan.